“Kesempatan itu akan semakin terbuka dengan semakin terbukanya sudut pandang dari masyarakat tentang kesempatan kerja yang sama dengan laki-laki,” ujarnya.
Praktisi geologi perempuan penuh pengalaman ini mengakui bahwa peluang tersebut bukan tanpa hambatan. Stereotipe perempuan sebagai keberadaan yang lemah sangat kuat memengaruhi kesadaran gender masyarakat, sehingga pekerjaan tambang yang maskulin itu tidak cocok dengan perempuan.
Menanggapi kondisi tersebut, Junita berpesan kepada para perempuan untuk tidak tunduk pada keadaan. Para perempuan harus membuktikan diri dan kompetensinya di mana pun berada.
“Ketika kita kerja di tambang semua sama, bukan karena kita laki-laki atau perempuan. Kita harus terima tantangan itu. Semangat terus, selalu berpikiran positif, kerja smart, kerja aman, dan jangan lupa berkolaborasi, maka semua tantangan itu akan menjadi positif dan luar biasa,” tuturnya.
Sebagai informasi, jumlah tenaga kerja perempuan PT BSI saat ini sebanyak 129 orang (10,3 persen) dari jumlah total pekerja sebanyak 1.248 orang. Para pekerja perempuan tersebut tersebar dalam berbagai bidang kerja di Tujuh Bukit Operations, kategori lapangan (operator alat berat) maupun perkantoran (administrasi, manajerial).
Sebagai tambahan informasi, dalam rilisnya pada April 2023, Women and the Mine of the Future Global Report melaporkan porsi pekerja laki-laki pada industri tambang mencapai 85 persen. Sementara itu di Indonesia, jumlah pekerja perempuan sangat kecil (8,24 persen) sedangkan pekerja laki-laki sangat besar (91,76 persen), sebagaimana catatan Badan Pusat Statistik (BPS) pada Februari 2025. (*)